sifat-sifat RASULULLAH S.A.W
SIDDIQ
Siddiq
ertinya benar. Benar adalah suatu sifat yang
mulia yang menghiasi akhlak seseorang yang beriman kepada Allah dan kepada
perkara-perkara yang ghaib. Ia merupakan sifat pertama yang wajib
dimiliki para Nabi dan Rasul yang dikirim Tuhan ke alam dunia ini bagi membawa
wahyu dan agamanya.
Pada
diri Rasulullah SAW, bukan hanya perkataannya yang benar, malah perbuatannya
juga benar, yakni sejalan dengan ucapannya. Jadi mustahil bagi Rasulullah SAW
itu bersifat pembohong, penipu dan sebagainya.
“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut
kemahuan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan
kepadanya.” (QS An-Najm: 4~5)
AMANAH
Amanah
ertinya benar-benar boleh dipercayai. Jika satu urusan diserahkan kepadanya,
nescaya orang percaya bahawa urusan itu akan dilaksanakan dengan
sebaik-baiknya. Oleh kerana itulah penduduk Makkah member gelaran kepada Nabi
Muhammad SAW dengan gelaran ‘Al-Amin’ yang bermaksud ‘terpercaya’, jauh sebelum
beliau diangkat jadi seorang Rasul. Apa pun yang beliau ucapkan, dipercayai dan
diyakini penduduk Makkah kerana beliau terkenal sebagai seorang yang tidak
pernah berdusta.
“Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku
hanyalah pemberi nasihat yang terpercaya bagimu.” (QS Al-A'raaf: 68)
Mustahil
Rasulullah SAW itu berlaku khianat terhadap orang yang memberinya amanah.
Baginda tidak pernah menggunakan kedudukannya sebagai Rasul atau sebagai
pemimpin bangsa Arab untuk kepentingan peribadinya atau kepentingan
keluarganya, namun yang dilakukan Baginda adalah semata-mata untuk kepentingan
Islam melalui ajaran Allah SWT.
Ketika
Nabi Muhammad SAW ditawarkan kerajaan, harta, wanita oleh kaum Quraisy agar
beliau meninggalkan tugas ilahinya menyiarkan agama Islam, Baginda menjawab:
”Demi Allah… wahai pakcik, seandainya mereka dapat
meletakkan matahari di tangan kanan ku dan bulan di tangan kiri ku agar aku
meninggalkan tugas suci ku, maka aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah
memenangkan (Islam) atau aku hancur kerananya”……
Meskipun
kaum kafir Quraisy mengancam membunuh Baginda, namun Baginda tidak gentar dan
tetap menjalankan amanah yang dia terima. Setiap orang Muslim sepatutnya
memiliki sifat amanah seperti Baginda SAW.
TABLIGH
Tabligh
ertinya menyampaikan. Segala firman Allah SWT yang ditujukan oleh manusia,
disampaikan oleh Baginda. Tidak ada yang disembunyikan walaupun ianya
menyinggung Baginda sendiri.
“Supaya Dia mengetahui, bahawa sesungguhnya rasul-rasul
itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedang ilmu-Nya meliputi apa
yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu.”
(QS Al-Jin: 28)
“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, kerana telah
datang seorang buta kepadanya.” (QS 'Abasa: 1~2)
Dalam
suatu riwayat dikemukakan bahawa firman Allah (QS 'Abasa: 1) turun berkenaan
dengan Ibnu Ummi Maktum yang buta yang datang kepada Rasulullah SAW sambil
berkata: “Berilah petunjuk kepadaku, ya
Rasulullah.” Pada waktu itu Rasulullah SAW sedang menghadapi para
pembesar kaum musyrikin Quraisy, sehingga Rasulullah berpaling daripadanya dan
tetap melayani pembesar-pembesar Quraisy. Ummi Maktum berkata: “Apakah yang saya katakan ini mengganggu tuan?”
Rasulullah menjawab: “Tidak.” Maka
ayat ini turun sebagai teguran di atas perbuatan Rasulullah SAW. (Diriwayatkan
oleh at-Tirmidzi dan al-Hakim yang bersumber dari ‘Aisyah. Diriwayatkan pula
oleh Ibnu Ya’la yang bersumber dari Anas.)
Sebetulnya
apa yang dilakukan Rasulullah SAW itu menurut standard umum adalah hal yang
wajar. Ketika sedang berbicara di depan umum atau dengan seseorang, tentu kita
tidak suka diganggu oleh orang lain. Namun untuk standard Nabi, itu tidak
cukup. Oleh kerana itulah Allah SWT telah menegur Baginda SAW.
Sebagai
seorang yang tabligh, meski ayat itu menyindirnya, Nabi Muhammad SAW tetap
menyampaikannya kepada kita. Itulah sifat seorang Nabi. Jadi, mustahil Nabi itu
‘kitman’ atau menyembunyikan wahyu.
FATHONAH
Fathonah
ertinya bijaksana. Mustahil bagi seseorang Rasul itu bersifat bodoh atau
jahlun. Dalam menyampaikan ayat Al-Quran dan kemudian menjelaskannya dalam
puluhan ribu hadis memerlukan kebijaksanaan yang luar biasa.
Baginda
SAW harus mampu menjelaskan firman-firman Allah SWT kepada kaumnya sehingga
mereka mahu memeluk Islam. Nabi juga harus mampu berdebat dengan orang-orang
kafir dengan cara yang sebaik-baiknya.
Apatah
lagi Baginda mampu mengatur umatnya sehingga
berjaya mentransformasikan bangsa Arab jahiliah yang asalnya bodoh,
kasar/bengis, berpecah-belah serta sentiasa berperang antara suku, menjadi satu
bangsa yang berbudaya dan berpengetahuan. Itu semua memerlukan kebijaksanaan
yang luar biasa.
Shiddiq
Shiddiq
artinya benar. Bukan hanya perkataannya yang benar, tapi juga perbuatannya juga
benar. Sejalan dengan ucapannya. Beda sekali dengan pemimpin sekarang yang
kebanyakan hanya kata-katanya yang manis, namun perbuatannya berbeda dengan
ucapannya.
Mustahil
Nabi itu bersifat pembohong/kizzib, dusta, dan sebagainya.
وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلْهَوَىٰٓ
Dan tiadalah yang diucapkannya itu
(Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya.
إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْىٌۭ يُوحَىٰ
Ucapannya
itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya” [An Najm 4-5]
Amanah
Amanah
artinya benar-benar bisa dipercaya. Jika satu urusan diserahkan kepadanya,
niscaya orang percaya bahwa urusan itu akan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
Oleh karena itulah Nabi Muhammad SAW dijuluki oleh penduduk Mekkah dengan gelar
“Al Amin” yang artinya terpercaya jauh sebelum beliau diangkat jadi Nabi. Apa
pun yang beliau ucapkan, penduduk Mekkah mempercayainya karena beliau bukanlah
orang yang pembohong.
“Aku
menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasehat
yang terpercaya bagimu.” [Al A'raaf 68]
Mustahil
Nabi itu khianat terhadap orang yang memberinya amanah.
Ketika
Nabi Muhammad SAW ditawari kerajaan, harta, wanita oleh kaum Quraisy agar beliau
meninggalkan tugas ilahinya menyiarkan agama Islam, beliau menjawab:
”Demi
Allah…wahai paman, seandainya mereka dapat meletakkan matahari di tangan kanan
ku dan bulan di tangan kiri ku agar aku meninggalkan tugas suci ku, maka aku
tidak akan meninggalkannya sampai Allah memenangkan (Islam) atau aku hancur
karena-Nya”……
Meski
kaum kafir Quraisy mengancam membunuh Nabi, namun Nabi tidak gentar dan tetap
menjalankan amanah yang dia terima.
Seorang
Muslim harusnya bersikap amanah seperti Nabi.
Tabligh
Tabligh
artinya menyampaikan. Segala firman Allah yang ditujukan oleh manusia,
disampaikan oleh Nabi. Tidak ada yang disembunyikan meski itu menyinggung Nabi.
لِّيَعْلَمَ
أَن قَدْ أَبْلَغُوا۟ رِسَٰلَٰتِ رَبِّهِمْ وَأَحَاطَ بِمَا لَدَيْهِمْ وَأَحْصَىٰ
كُلَّ شَىْءٍ عَدَدًۢا
“Supaya
Dia mengetahui, bahwa sesungguhnya rasul-rasul itu telah menyampaikan
risalah-risalah Tuhannya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada
pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu.” [Al Jin 28]
“Dia
(Muhammad) bermuka masam dan berpaling,
karena telah datang seorang buta kepadanya” ['Abasa 1-2]
karena telah datang seorang buta kepadanya” ['Abasa 1-2]
Dalam
suatu riwayat dikemukakan bahwa firman Allah S.80:1 turun berkenaan dengan Ibnu
Ummi Maktum yang buta yang datang kepada Rasulullah saw. sambil berkata: “Berilah
petunjuk kepadaku ya Rasulullah.” Pada waktu itu Rasulullah saw. sedang
menghadapi para pembesar kaum musyrikin Quraisy, sehingga Rasulullah berpaling
daripadanya dan tetap mengahadapi pembesar-pembesar Quraisy. Ummi Maktum
berkata: “Apakah yang saya katakan ini mengganggu tuan?” Rasulullah menjawab:
“Tidak.” Ayat ini (S.80:1-10) turun sebagai teguran atas perbuatan Rasulullah
saw.
(Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan al-Hakim yang bersumber dari ‘Aisyah. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Ya’la yang bersumber dari Anas.)
(Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan al-Hakim yang bersumber dari ‘Aisyah. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Ya’la yang bersumber dari Anas.)
Sebetulnya
apa yang dilakukan Nabi itu menurut standar umum adalah hal yang wajar. Saat
sedang berbicara di depan umum atau dengan seseorang, tentu kita tidak suka
diinterupsi oleh orang lain. Namun untuk standar Nabi, itu tidak cukup. Oleh
karena itulah Allah menegurnya.
Sebagai
seorang yang tabligh, meski ayat itu menyindirnya, Nabi Muhammad tetap
menyampaikannya kepada kita. Itulah sifat seorang Nabi.
Tidak
mungkin Nabi itu Kitman atau menyembunyikan wahyu.
Fathonah
Artinya
Cerdas. Mustahil Nabi itu bodoh atau jahlun. Dalam menyampaikan 6.236 ayat Al
Qur’an kemudian menjelaskannya dalam puluhan ribu hadits membutuhkan kecerdasan
yang luar biasa.
Nabi
harus mampu menjelaskan firman-firman Allah kepada kaumnya sehingga mereka mau
masuk ke dalam Islam. Nabi juga harus mampu berdebat dengan orang-orang kafir
dengan cara yang sebaik-baiknya.
Apalagi
Nabi mampu mengatur ummatnya sehingga dari bangsa Arab yang bodoh dan
terpecah-belah serta saling perang antar suku, menjadi satu bangsa yang berbudaya
dan berpengetahuan dalam 1 negara yang besar yang dalam 100 tahun melebihi luas
Eropa.
Ulasan
Catat Ulasan