syurga
- Dapatkan pautan
- X
- E-mel
- Apl Lain
Kunci Surga Itu Bernama Kesetiaan
PADA suatu hari, Fathimah Radhiyallahu ‘anha (RA) bertanya kepada
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, siapakah perempuan yang akan
masuk surga pertama kali. Rasulullah menjawab, ”Seorang wanita yang
bernama Mutiah.”
Tentu saja Fathimah terkejut. Ternyata bukan
dirinya, seperti yang dibayangkannya. Mengapa orang lain, padahal dia
adalah putri Nabi?
Timbullah keinginan untuk mengetahui
siapakah Mutiah itu. Apa gerangan yang diperbuatnya sampai mendapat
kehormatan yang begitu tinggi?
Sesudah meminta izin kepada
suaminya, Ali bin Abi Thalib RA, Fathimah berangkat mencari rumah
Mutiah. Putranya yang masih kecil, Hasan, menangis ingin ikut. Maka
digandengnya Hasan.
Tiba di depan rumah yang dituju, Fathimah mengetuk pintu, “Assalaamu’alaikum…!”
“Wa’alaikumsalaam. Siapa di luar?” terdengar jawaban dari dalam rumah. Suaranya cerah dan merdu.
“Saya Fathimah, putri Rasulullah.”
“Alhamdulillah, alangkah bahagia saya hari ini. Fathimah sudi
berkunjung ke gubug saya,” terdengar kembali jawaban dari dalam,
terdengar lebih gembira, dan makin mendekat ke pintu.
“Sendirian Fathimah?” tanya Mutiah.
“Aku ditemani Hasan.”
“Aduh, maaf ya,” suara itu seperti menyesal. “Saya belum mendapat izin untuk menemui tamu laki-laki.”
“Tapi Hasan masih kecil.”
“Meski kecil, Hasan laki-laki. Besok saja datang lagi, saya akan minta izin kepada suami saya.”
Sambil menggeleng-nggelengkan kepala, Fathimah akhirnya minta permisi.
Besoknya ia datang lagi. Kali ini Husain, adik Hasan, diajak juga.
Bertiga dengan anak-anak yang masih kecil itu, Fathimah mendatangi rumah
Mutiah.
Setelah memberi salam dan dijawab gembira, Mutiah bertanya dari dalam, “Jadi dengan Hasan? Suami saya sudah memberi izin.”
“Ya, dengan Hasan dan Husain.”
“Ha! Mengapa tidak bilang dari kemarin? Yang dapat izin cuma Hasan, Husain belum. Terpaksa saya tidak bisa menerima juga.”
Lagi-lagi Fathimah gagal bertemu.
Esok harinya barulah mereka disambut baik-baik oleh Mutiah. Keadaan
rumah itu sangat sederhana. Tidak ada satu pun perabot mewah, namun
semuanya teratur rapi.
Ada tempat tidur yang terbuat dari kayu
kasar namun tampak bersih. Alasnya putih, agaknya baru dicuci. Bau di
dalam sangat segar. Membuat orang betah tinggal berlama-lama.
Fathimah kagum melihat suasana yang sangat menyenangkan itu. Hasan dan
Husain pun yang biasanya kurang begitu senang berada di rumah orang,
kali ini tampak asyik bermain-main.
“Maaf, saya tidak bisa
menemani Fathimah duduk, sebab saya sedang menyiapkan makan buat suami
saya,“ kata Muthiah sambil sibuk di dapur.
Mendekati tengah hari, masakan itu sudah rampung. Mutiah menatanya di atas nampan. Juga, menaruh cambuk.
Fathimah bertanya, ”Suamimu kerja di mana?”
“Di ladang.”
“Penggembala?”
“Bukan. Bercocok tanam.”
“Tapi mengapa kau bawakan cambuk, untuk apa?”
“Oh, itu,” Mutiah tersenyum. “Cambuk itu saya sediakan untuk keperluan lain.”
Fathimah penasaran.
“Maksud saya begini. Kalau suami saya sedang makan, maka akan saya
tanyakan apakah cocok atau tidak. Kalau dia bilang cocok, tak akan
terjadi apa-apa. Tetapi kalau bilang tidak cocok, cambuk itu akan saya
berikan kepadanya agar punggung saya dicambuk sebab tidak bisa
menyenangkan hati suami.”
“Atas kehendak suamimukah kau bawa cambuk itu?”
“Oh, sama sekali tidak. Suami saya adalah orang yang lembut dan
pengasih. Ini semua semata-mata kehendak saya agar jangan sampai saya
menjadi istri yang durhaka kepada suami.”
Usai mendengar
penjelasan ini, Fathimah minta permisi. Dalam hati ia berkata, pantas ia
akan masuk surga buat pertama kali. Baktinya kepada suami begitu besar
dan tulus.
Kesetiaan yang Bersejarah
Bukan berarti
Fathimah tidak termasuk tipikal wanita yang setia terhadap suaminya.
Kesetiaan dan ketaatan buah hati Rasulullah ini kepada suami tidak
diragukan lagi. Kehidupan rumah tangganya serba kekurangan, nemun
kesetiaannya yang didasari keimanan dan perjuangan syiar Islam tidak
luntur walau sedebu. Darah kesetiaan nampaknya mengalir deras dari
ibundanya, Khadijah RA, Muslimah pertama yang mempelopori kecintaan dan
kesetiaan kepada suami.
Mari kita kenang kembali peristiwa yang
sungguh mendebarkan jantung Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam
(صلى الله عليه و سلم). Peristiwa itu ialah penerimaan wahyu yang pertama
di Gua Hira.
Sekembalinya ke rumah, Nabi berkata kepada istrinya yang tercinta, “Aku merasa khawatir terhadap diriku.”
Saat itu Khadijah dengan segala kelembutannya berkata, “Wahai Kakanda,
demi Allah, Tuhan tidak akan mengecewakanmu karena sesungguhnya Kakanda
adalah orang yang selalu memupuk dan menjaga kekeluargaan, serta sanggup
memikul tanggung jawab.
Kakanda dikenali sebagai penolong kaum
yang sengsara, sebagai tuan rumah yang menyenangkan tamu, ringan tangan
dalam memberi pertolongan, senantiasa berbicara benar dan setia kepada
amanah,” tuturnya.
Apakah ada wanita lain yang dapat menyambut
sedemikian baik peristiwa bersejarah yang berlaku di Gua Hira seperti
yang dilakukan oleh Khadijah? Betapa besarnya kepercayaan (kesetiaan)
dan kasih sayang seorang istri kepada suami yang dilandasi iman yang
teguh. Sedikit pun Khadijah tidak berasa ragu-ragu di dalam hatinya.
Jika ada wanita yang berkurang kadar kesetiaannya karena alasan
penghasilan dan kekayaan, maka Khadijah merupakan wanita kaya dan
terkenal. Beliau wanita yang hidup mewah dengan hartanya sendiri. Namun
semua itu dengan rela dikorbankannya untuk memudahkan tugas-tugas
suaminya. Baginya, apa yang dimiliki tidak lebih mulia daripada
mendukung misi suci yang diemban suaminya. Sikap inilah yang menjadi
sumber kekuatan rumah tangga Rasulullah sepanjang kehidupan mereka
bersama.
Khadijah begitu setia menyertai Nabi dalam setiap
peristiwa suka dan duka. Setiap kali suaminya ke Gua Hira, beliau pasti
menyiapkan segenap perbekalan dan keperluan. Seandainya Rasulullah agak
lama tidak pulang, Khadijah akan mengunjungi untuk memastikan
keselamatan suaminya tercinta.
Ketika Rasulullah khusyu’
bermunajat, Khadijah tinggal di rumah dengan sabar sehingga suaminya
pulang. Apabila Nabi mengadu kesusahan serta berada dalam keadaan
gelisah, istri teladan ini mencoba sedapat mungkin menenteramkan dan
menghiburnya sehingga suaminya benar-benar merasakan ketenangan.
Setiap ancaman dan penganiayaan dihadapi bersama. Malah dalam banyak
kegiatan peribadatan Rasulullah, Khadijah pasti bersama dan membantu,
misalnya menyediakan air untuk mengambil wudhu.
Kecintaan dan
kesetiaan itu bukan sekadar kepada suami, namun jelas berlandaskan
keyakinan yang kuat tentang keesaan Allah. Segala pengorbanan untuk
suaminya adalah ikhlas untuk mencari keridhaan Allah.
Allah
Maha Adil dalam memberi rahmat-Nya. Setiap amalan yang dilaksanakan
makhluk-Nya dengan penuh keikhlasan, pasti mendapat ganjaran yang
berkekalan.
مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ
مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ
أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ
Allah berfirman,
“Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun
perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan
kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan
kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka
kerjakan.” (An-Nahl: 97).
Janji Allah itu pasti benar. Wujud
kesetiaan yang telah ditunjukkan oleh Mutiah, Fathimah, dan juga
Khadijah bukan sekadar menghasilkan kekuatan yang mendorong kegigihan
dan perjuangan suaminya, namun juga membawa barakah yang besar kepada
rumah tangga mereka. Anak-anak yang lahir dari wanita-anita seperti ini
adalah anak-anak yang shalih yang mendorong para orangtua menuju surga.
Kalaulah di zaman sekarang ini ada anggapan bahwa kesetiaan di atas
merupakan lambang perbudakan pria kepada wanita, jelas itu tidak benar.
Justru sebaliknya, itu merupakan cermin cinta, ketulusan, dan
pengorbanan kaum wanita yang harus dihargai dengan perilaku yang sama
dalam rangka mencari ridha-Nya.*
- Dapatkan pautan
- X
- E-mel
- Apl Lain
Ulasan
Catat Ulasan